Palembang, SriwijayaPlus.id – Palembang menjadi salah satu kota yang memulai kembali penggunaan pembalut kain, melalui Cindo Pads.
Ada beberapa misi yang diemban Women Crisis Centre berkolaborasi dengan Bank Sampah Kenangan, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) dan Kelompok CU Jaya Bersama melalui Cindo Pads ini.
”Insiatif ini sebagai langkah nyata pemberdayaan perempuan, kesehatan reproduksi serta pelestarian lingkungan,” kata Yeni Roslaini penanggungjawab Cindo Pads yang juga Dewan pengurus WCC Palembang.
Pemberdayaan Perempuan
Pembuatan pembalut kain ini, kata Yeni, melibatkan sejumlah penjahit perempuan yang tergabung dengan kelompok CU Jaya Bersama.
”Dengan begitu membuka peluang ekonomi dengan memperkuat pelaku UMKM khususnya penjahit perempuan,” kata Yeni.
Yeni mengatakan, sebelum diluncurkan, Cindo Pads tentunya sudah menjalani beberapa riset. Seperti pemilihan dan penggunaan bahan lalu ukuran serta keberlangsungan dari pembalut kain ini.
Cindo-Pads merupakan pembalut kain yang dapat dicuci dan digunakan kembali, terbuat dari bahan lambut yang aman untuk kulit dan nyaman digunakan sehari-hari.
”Cindo Pads alternatif yang lebih sehat serta minim risiko iritasi dibandingkan pembalut sekali pakai. Pembalut kain ini membantu menjaga area sensitif tetap kering, nyaman dan minim iritasi karena bebas bahan kimia berbahaya,” ujar Yeni.
Ia juga mengingatkan pentingnya edukasi menstruasi sejak dini sebagai upaya menghilangkan stigma dan rasa malu, serta menjaga kesehatan tubuh perempuan.
“Peluncuran pembalut kain ini sebagai upaya kami agar perempuan hidup sehat, dan memilih berdaya secara ekonomi, berupaya agar bersama-sama mengadvokasi pemenuhan kesehatan reproduksi,” kata dia.
Menurut dia, pembalut kain ini sebagai produk yang lahir dari kebutuhan nyata perempuan. Menurutnya, produk ini lebih aman bagi tubuh, minim risiko iritasi, dan mencerminkan keberpihakan pada kesehatan perempuan.
Edukasi dan sosialisasi juga dilakukan terus menerus, melalui dinas-dinas, kelompok-kelompok perempuan, sekolah-sekolah, termasuk ke teman-teman media.
Menurut dia, pembalut kain ini sebagai produk yang lahir dari kebutuhan nyata perempuan. Menurutnya, produk ini lebih aman bagi tubuh, minim risiko iritasi, dan mencerminkan keberpihakan pada kesehatan perempuan.
Edukasi dan sosialisasi juga dilakukan terus menerus, melalui dinas-dinas, kelompok-kelompok perempuan, sekolah-sekolah, termasuk ke teman-teman media.
Kontribusi Bank Sampah Kenanga
Sementara itu, Ketua Bank Sampah Kenanga Nyimas Eli Agustina menjelaskan bahwa pembalut kain berkontribusi besar dalam mengurangi sampah menstruasi yang sulit diurai.
Ia menilai pembalut sekali pakai mengandung bahan kimia berbahaya dan memiliki dampak lingkungan jangka panjang.
“Limbah pembalut sekali pakai sulit diurai dan membahayakan lingkungan. Pembalut kain adalah solusinya,” kata Nyimas.
Ia menambahkan bahwa produksi Cindo Pads juga membuka peluang ekonomi bagi penjahit lokal serta memperkuat usaha kecil dan menengah di Palembang. “Selain lebih ramah lingkungan, mengurangi sampah pembalut sekali pakai, pembalut kain Cindo-Pads ini juga hemat biaya karena bisa digunakan berulang dan masa pakainya lama,” ujar dia.
Peluncuran Cindo Pads menjadi simbol nyata untuk mengajak masyarakat bersama-sama memulai langkah kecil dengan dampak besar bagi kesehatan perempuan dan kelestarian lingkungan.
Dengan semangat kolaborasi dan edukasi, Cindo-Pads hadir sebagai solusi ekonomis, sehat, dan ramah lingkungan.
