Update: Putus Obat ARV Jadi Alarm, Sriwijaya Plus Perkuat Pendampingan ODHIV di Palembang

oleh
oleh
Direktur Yayasan Sriwijaya Plus Rahmat Saleh

Palembang, SriwijayaPlus.id – Salah satu kendala utama menekan tingkat penularan akibat HIV AIDS di Palembang adalah indikasi putus obat ARV.

Ancaman Angka pasien HIV yang putus obat Antiretroviral (ARV) menjadi alarm serius bagi keberlanjutan migitasi penularan dan angka kematian ODHA di Sumatera Selatan.

Fenomena Lost to Follow-Up (LFU) ini bukan sekadar persoalan medis, tetapi juga menyangkut stigma sosial, kejenuhan konsumsi obat harian, hingga akses layanan kesehatan yang terbatas.

Menyikapi kondisi tersebut, Yayasan Sriwijaya Plus memperkuat pendampingan berbasis komunitas dengan menggelar capacity building, melatih tim inti agar lebih responsif dan humanis dalam merangkul kembali Orang dengan HIV (ODHIV) yang berhenti berobat.

BACA JUGA:  Gugatan Perdata terhadap 25 Media di Palembang Mengancam Demokrasi

” Keberlanjutan pengobatan bagi Orang dengan HIV (ODHIV) masih menghadapi tantangan besar di lapangan. Salah satu persoalan paling krusial dalam penanggulangan HIV/AIDS saat ini adalah tingginya angka Lost to Follow-Up (LFU),” kata Direktur Yayasan Sriwijaya Plus Rachmat Saleh di Palembang.

Istilah medis LFU merujuk pada penderita yang berhenti berobat atau mangkir dari jadwal pengambilan obat Antiretroviral (ARV).

Rachmat Saleh, mengungkap bahwa penguatan kompetensi internal tim lapangan merupakan kunci utama untuk memetakan alasan di balik fenomena pasien yang mangkir dari terapi harian. Ia menegaskan bahwa penanganan LFU tidak boleh ditunda karena dampaknya yang fatal bagi kesehatan pasien.

“Melalui capacity building ini, kami menyamakan persepsi dan memperkuat amunisi pengetahuan tim inti. Pasien LFU tidak boleh dibiarkan tanpa pendampingan. Ketika mereka putus obat ARV, virus di dalam tubuh berpotensi kuat untuk mengembangkan resistensi atau kebal obat. Akibatnya, pilihan regimen obat untuk tahap selanjutnya akan menjadi jauh lebih rumit dan mahal,” ujar Rachmat Saleh di hadapan para peserta dan narasumber.

BACA JUGA:  Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir Sabet Gelar Juara Dunia Kedua

Pendekatan Sebaya dan Tantangan di Lapangan

Rachmat memaparkan bahwa data lapangan menunjukkan tingginya kejenuhan konsumsi obat harian, ketakutan akan efek samping, hingga beratnya stigma sosial menjadi pemicu utama ODHIV menarik diri dari layanan kesehatan.

Selain faktor psikososial, kendala geografis di Sumatera Selatan juga kerap menyulitkan pasien untuk menjangkau fasilitas kesehatan pemberi ARV.

Oleh sebab itu, materi pelatihan difokuskan pada teknik konseling humanis berbasis kelompok sebaya (peer-to-peer approach) untuk mengurangi hambatan-hambatan tersebut.

BACA JUGA:  Pemprov Sumsel Kini Gunakan Kertas HVS Produk Lokal

“Banyak faktor yang membuat pasien menjadi LFU. Lewat metode pendampingan sebaya, kami melatih tim untuk merangkul mereka kembali tanpa menghakimi. Kami memposisikan diri sebagai rekan perjalanan mereka, bukan interogator. Pelatihan ini mematangkan kemampuan komunikasi tim lapangan saat berhadapan langsung dengan pasien yang sedang dalam kondisi psikologis rapuh,” kata Rachmat Saleh menambahkan.

Kemitraan Strategis Demi Keberlanjutan Layanan

Dalam menjalankan misinya, Sriwijaya Plus tidak bergerak sendiri. Mereka menjalin kemitraan strategis dengan Jaringan Indonesia Positif (JIP), dinas kesehatan, serta mendorong kolaborasi dengan Bappeda Kota Palembang.

Sinergi ini ditujukan untuk memotong jalur birokrasi penanganan pasien mangkir obat sekaligus mendorong kemandirian anggaran daerah untuk program AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM).

BACA JUGA:  Pergantian Jitu Luis Milla yang Mengantar Indonesia ke Semifinal

Penguatan dukungan komunitas serta optimalisasi anggaran daerah menjadi kunci penting agar layanan rujukan dan operasional pelacakan LFU di lapangan tetap terjaga secara mandiri dan berkelanjutan.

Melalui momentum peningkatan kapasitas ini, Sriwijaya Plus berkomitmen melahirkan kader-kader pendamping yang lebih responsif dan adaptif demi mencapai target eliminasi HIV.

Bagi masyarakat atau pihak keluarga yang membutuhkan informasi layanan VCT, rujukan klinis, maupun pendampingan bagi kerabat yang putus obat di wilayah Sumatera Selatan, komunikasi interaktif dapat diakses melalui akun Instagram resmi @sriwijayaplus.

No More Posts Available.

No more pages to load.